Jelaskan Pengertian Teks Eksplanasi: Struktur, Ciri, Contoh

Pahami pengertian teks eksplanasi, struktur, ciri-ciri, dan kaidah bahasa. Dilengkapi contoh singkat dan pembahasannya.

Pengertian teks eksplanasi sering muncul di tugas Bahasa Indonesia, tapi di lapangan banyak pelajar masih “ketuker” antara menjelaskan apa itu dengan menjelaskan mengapa dan bagaimana itu terjadi. Dari pengalaman mengedit tugas-tugas sekolah, bagian yang paling sering salah bukan ejaannya melainkan arah penjelasannya: terlalu banyak opini, terlalu sedikit sebab-akibat.

Di kelas, teks eksplanasi biasanya dipakai buat melatih cara berpikir runtut: mulai dari mengenalkan fenomena, lalu mengurai prosesnya. Ini berguna banget saat ujian karena penilai biasanya mencari logika penjelasan, bukan sekadar kalimat panjang yang terdengar ilmiah. Kalau struktur dan cirinya kebaca jelas, nilai aman dan yang lebih penting, kamu paham materinya.

Artikel ini sengaja dibuat “praktis tapi tetap rapi” seperti catatan belajar yang enak dibaca. Sebagai editor Bahasa Indonesia yang sering membenahi naskah pelajar, fokusnya bukan cuma definisi, tapi juga cara mengidentifikasi struktur teks eksplanasi, mengenali ciri-ciri teks eksplanasi, sampai menguasai kaidah bahasa yang sering jadi sumber salah kaprah.

Biar makin kebayang, nanti ada contoh teks (fenomena alam dan sosial) plus pembahasan strukturnya. Ini penting karena banyak orang merasa paham teori, tapi begitu diminta nulis, masih bingung menempatkan “pernyataan umum”, “deretan penjelas”, dan “interpretasi” secara pas. Di bagian akhir juga ada ringkasan tabel dan FAQ biar bisa dipakai ulang saat belajar kilat.

Pengertian teks eksplanasi dan tujuan penulisannya

Secara konsep, teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi, baik fenomena alam (misalnya hujan, banjir, pelangi) maupun fenomena sosial (misalnya urbanisasi, kemacetan, pengangguran). Dalam praktik pembelajaran, definisi ini membantu membedakan eksplanasi dari teks yang cuma memaparkan informasi tanpa alur sebab-akibat.

Tujuan utamanya bukan sekadar “memberi tahu”, melainkan membuat pembaca paham urutan proses dan hubungan sebab-akibatnya. Dari pengalaman membimbing revisi tugas, teks eksplanasi yang bagus biasanya punya satu benang merah: setiap paragraf terasa menyambung logika sebelumnya, bukan loncat-loncat. Itu sebabnya eksplanasi sering dinilai dari keruntutan penalaran.

Kalau ditarik ke fungsi akademik, teks eksplanasi melatih keterampilan literasi sains dan sosial: mengamati fenomena, memilih fakta relevan, lalu merangkainya jadi penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Di sekolah, ini selaras dengan kebiasaan menulis berbasis data (misalnya hasil pengamatan sederhana, bacaan, atau pengetahuan umum yang bisa diverifikasi), bukan berbasis “katanya”.

Supaya makin jelas, bandingkan secara singkat dengan teks lain yang sering bikin bingung. Teks eksposisi cenderung berargumen dan meyakinkan (ada tesis–argumen–penegasan ulang), sedangkan teks eksplanasi berfokus mengurai proses terjadinya fenomena. Teks laporan hasil observasi memotret ciri/klasifikasi objek (apa saja bagiannya), sedangkan eksplanasi menekankan mekanisme (bagaimana prosesnya). Teks prosedur berisi langkah melakukan sesuatu (cara membuat/melakukan), sementara eksplanasi menjawab “kenapa bisa begini”. Perbandingan ini penting biar kamu nggak salah genre saat menulis.

Dalam penilaian sekolah, teks eksplanasi yang kuat biasanya menunjukkan dua hal: 

  1. Fenomena yang jelas batasnya, dan 
  2. Penjelasan yang “terukur”, artinya tidak dominan opini personal. 

Ini juga jadi alasan kenapa sebagian guru menekankan penggunaan konjungsi kausalitas (karena, sehingga, akibatnya) sebagai penanda hubungan logis, bukan sekadar gaya bahasa.

Ciri-ciri teks eksplanasi yang paling mudah dikenali

Ciri-ciri teks eksplanasi yang paling gampang dikenali adalah fokusnya pada fenomena dan proses sebab-akibat. Kalau kamu membaca satu paragraf dan menemukan pola “ini terjadi karena… lalu berdampak… kemudian…”, kemungkinan besar itu eksplanasi. Dari pengalaman mengecek tugas, indikator ini jauh lebih cepat daripada menghafal definisi panjang.

Ciri berikutnya: informasinya bersifat faktual atau dapat diuji kebenarannya secara umum. Ini bukan berarti harus pakai data angka yang rumit, tapi setidaknya penjelasannya masuk akal secara pengetahuan umum dan tidak mengandalkan perasaan penulis. Dalam praktik, kalimat seperti “menurutku banjir terjadi karena orang-orang malas” terdengar menghakimi, sedangkan “banjir terjadi karena saluran tersumbat sampah sehingga aliran air terhambat” lebih eksplanatif.

Ciri yang juga sering muncul adalah penggunaan istilah teknis sesuai topik, tapi tetap bisa dipahami pembaca. Misalnya saat membahas hujan, istilah seperti “penguapan”, “kondensasi”, “presipitasi” bisa dipakai selama konteksnya dijelaskan. Di sini, keahlian menyeimbangkan “ilmiah” dan “jelas” jadi kunci; terlalu teknis bikin pembaca hilang, terlalu umum bikin penjelasan dangkal.

Selain itu, teks eksplanasi biasanya tersusun sistematis: ada pengantar fenomena, lalu penjelasan runtut tahap demi tahap, kemudian penutup/interpretasi. Struktur ini bukan pajangan ia membantu pembaca mengikuti alur. Dari sisi kepercayaan pembaca, struktur yang konsisten bikin teks terasa “niat” dan bisa diandalkan.

Ciri lain yang membantu identifikasi adalah dominannya kalimat deklaratif (pernyataan) daripada kalimat perintah. Kalau isinya “campurkan… lakukan… langkah pertama…”, itu lebih dekat ke prosedur. Kalau isinya “fenomena ini terjadi ketika… karena… sehingga…”, itu lebih dekat ke eksplanasi. Trik ini sering dipakai saat latihan cepat menjelang ujian.

Terakhir, eksplanasi yang baik biasanya netral dan tidak menyeret opini emosional. Bukan berarti tidak boleh ada interpretasi, tapi interpretasinya tetap berdasar pada rangkaian penjelasan, bukan menyalahkan pihak tertentu tanpa landasan. Ini penting, apalagi untuk fenomena sosial yang rawan bias.

Struktur teks eksplanasi beserta fungsi tiap bagian

Struktur teks eksplanasi yang paling umum dipakai di sekolah terdiri dari: pernyataan umumderetan penjelasinterpretasi. Dari pengalaman mengoreksi, banyak teks gagal bukan karena idenya jelek, tapi karena bagian “pernyataan umum” terlalu panjang dan keburu masuk opini sebelum prosesnya dijelaskan.

Pernyataan umum berfungsi mengenalkan fenomena: apa yang dibahas, terjadi di konteks apa, dan mengapa topik itu relevan. Bagian ini ibarat “peta” untuk pembaca. Idealnya singkat, jelas, dan tidak bertele-tele. Misalnya: “Banjir adalah peristiwa meluapnya air ke daratan yang biasanya kering, terutama saat curah hujan tinggi dan daya serap lingkungan menurun.” Kalimat ini belum menjelaskan proses detail baru mengenalkan.

Deretan penjelas adalah jantung teks. Di sinilah kamu mengurai proses terjadinya fenomena secara runtut, bisa berdasarkan urutan waktu (kronologis) atau urutan sebab-akibat (kausal). Untuk fenomena alam, urutannya sering berupa tahap (penguapan → kondensasi → presipitasi). Untuk fenomena sosial, urutannya bisa berupa faktor penyebab → proses → dampak. Semakin rapi urutan ini, semakin kuat kualitas eksplanasinya.

Interpretasi berfungsi sebagai penutup yang merangkum atau memberi pandangan akhir yang masih logis dengan penjelasan sebelumnya. Interpretasi bukan tempat “ceramah”, melainkan simpulan wajar. Misalnya: “Karena itu, perbaikan drainase dan pengelolaan sampah penting untuk mengurangi risiko banjir.” Ini bukan opini asal, melainkan konsekuensi dari sebab-akibat yang sudah dijelaskan.

Supaya struktur ini gampang dipakai saat menulis, ada metode praktis yang sering dipakai guru: tulis dulu 1–2 kalimat pernyataan umum, lalu buat daftar poin untuk deretan penjelas (minimal 3–5 poin), baru tutup dengan 1 paragraf interpretasi. Dari pengalaman editorial, teknik “draft kerangka dulu” jauh mengurangi paragraf yang muter-muter.

Checklist cepat saat mengecek struktur: 

  1. Apakah paragraf awal hanya mengenalkan fenomena? 
  2. Apakah bagian tengah punya penanda urutan (pertama, kemudian, akibatnya, sehingga)? 
  3. Apakah penutup merangkum tanpa membawa isu baru?Kalau jawaban “ya” untuk tiga hal ini, strukturmu biasanya sudah aman.

Kaidah kebahasaan teks eksplanasi dan contohnya

Kaidah kebahasaan teks eksplanasi membantu teks terasa objektif, runtut, dan mudah dinilai. Di lapangan, banyak pelajar sebenarnya paham isi, tapi nilainya turun karena bahasa tidak mendukung fungsi eksplanasi: minim konjungsi sebab-akibat, terlalu banyak kata gaul, atau bercampur opini. Padahal, cukup beberapa penyesuaian kecil untuk menaikkan kualitas tulisan.

Pertama, eksplanasi kuat memakai konjungsi kausalitas (karena, sebab, sehingga, akibatnya, oleh karena itu) dan konjungsi kronologis (kemudian, setelah itu, selanjutnya, pada akhirnya). Contoh: “Curah hujan tinggi sehingga debit sungai meningkat.” atau “Uap air mengalami kondensasi, kemudian membentuk awan.” Konjungsi ini seperti “lem” yang menyatukan logika antar kalimat.

Kedua, sering digunakan istilah teknis sesuai bidang. Contoh kalimat (fenomena alam): “Kondensasi terjadi ketika uap air mendingin dan berubah menjadi titik-titik air.” Contoh (fenomena sosial): “Urbanisasi meningkat ketika peluang kerja terkonsentrasi di kota besar.” Istilah teknis membuat penjelasan lebih presisi, tapi tetap harus dibarengi penjelasan sederhana biar pembaca tidak tersandung.

Ketiga, eksplanasi banyak memakai kalimat pasif atau bentuk yang menonjolkan proses, bukan pelakunya, terutama saat fenomenanya bersifat umum. Contoh: “Air terbawa arus ke hilir” atau “Sampah menyumbat saluran drainase.” Bentuk ini membantu teks terasa netral dan fokus pada mekanisme.

Keempat, gunakan kata kerja material (mengalir, menguap, membeku, meningkat, menurun, terbentuk) dan kata kerja relasional (merupakan, menjadi, termasuk). Contoh: “Pelangi terbentuk karena pembiasan cahaya” (material) dan “Banjir merupakan peristiwa…” (relasional). Dari pengalaman revisi, mengganti kata kerja yang “lemah” seperti “ada” menjadi kata kerja proses sering membuat teks lebih hidup dan ilmiah.

Kelima, perhatikan konsistensi EYD: kapitalisasi, tanda baca, dan pemilihan kata baku. Ini bukan sekadar kosmetik; kerapian EYD meningkatkan keterbacaan dan kepercayaan pembaca. Kesalahan umum yang sering muncul misalnya: “di karenakan” (seharusnya “dikarenakan” atau lebih baik “karena”), atau penggunaan “yg”, “dgn” yang tidak sesuai ragam tulisan akademik.

Tabel ringkasan cepat

Aspek Inti Manfaat Tantangan/Risiko Solusi Praktis
Konsep Menjelaskan mengapa & bagaimana fenomena terjadi Melatih logika sebab-akibat Tergelincir jadi opini/argumen Fokus proses + fakta yang bisa diuji
Struktur Pernyataan umum → deretan penjelas → interpretasi Teks runtut & mudah dinilai Paragraf awal kepanjangan Buat kerangka 1–2 kalimat pembuka, lalu poin proses
Kebahasaan Konjungsi kausal & kronologis, istilah teknis, kata kerja proses Penjelasan terasa ilmiah & jelas Kalimat “loncat” tanpa penghubung Tambahkan karena/sehingga/kemudian secara tepat
Contoh Fenomena alam & sosial Mudah dipahami lewat model Contoh tidak diurai strukturnya Bedah per paragraf: bagian mana pernyataan umum/penjelas/interpretasi

Kalau tabel ini dipakai buat “cek cepat” sebelum mengumpulkan tugas, biasanya kesalahan besar bisa ketahuan: misalnya teksmu ternyata baru deskripsi, atau malah jadi eksposisi karena terlalu banyak ajakan. Dari pengalaman pendampingan belajar, 5 menit mengecek tabel ringkasan sering menyelamatkan 50% revisi di akhir.

Contoh teks eksplanasi singkat dan pembahasan strukturnya

Bagian contoh ini sengaja dibuat ringkas tapi lengkap, karena banyak pelajar butuh model yang bisa ditiru. Dalam praktik, meniru struktur bukan berarti menyalin isi—yang ditiru adalah cara menyusun logika. Dua contoh di bawah dipilih karena sering muncul di tugas: fenomena alam (hujan) dan fenomena sosial (kemacetan).

Contoh 1: Fenomena alam (Hujan)

Teks:
Hujan adalah peristiwa turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi yang terjadi melalui serangkaian proses di alam. Fenomena ini umum terjadi di wilayah tropis, terutama saat kelembapan udara tinggi.

Proses hujan diawali ketika panas matahari menguapkan air dari laut, danau, atau permukaan tanah. Uap air naik ke atmosfer dan mengalami pendinginan, sehingga terjadi kondensasi yang membentuk awan. Ketika titik-titik air di awan bergabung dan massanya semakin berat, gaya gravitasi menariknya turun sebagai presipitasi. Jika suhu udara cukup rendah, presipitasi dapat berupa hujan es, tetapi pada umumnya jatuh sebagai air hujan.

Dengan demikian, hujan terjadi karena hubungan antara penguapan, pembentukan awan, dan jatuhnya presipitasi. Memahami proses ini membantu menjelaskan mengapa hujan bisa berbeda intensitasnya di setiap tempat dan waktu.

Pembahasan struktur: Paragraf pertama adalah pernyataan umum karena mengenalkan apa itu hujan dan konteksnya tanpa mengurai proses detail. Paragraf kedua adalah deretan penjelas karena memaparkan tahapan proses (penguapan → kondensasi → presipitasi) secara runtut dan kausal. Paragraf ketiga adalah interpretasi karena merangkum hubungan proses dan memberi penutup yang masih nyambung dengan penjelasan sebelumnya.

Dari pengalaman menilai contoh seperti ini, kesalahan yang sering terjadi adalah menaruh “solusi” di contoh fenomena alam secara berlebihan, misalnya tiba-tiba membahas “hemat air” tanpa mengaitkan ke proses hujan. Boleh saja menutup dengan kalimat reflektif, tapi pastikan tetap logis sebagai simpulan, bukan melompat topik.

Contoh 2: Fenomena sosial (Kemacetan)

Teks:
Kemacetan lalu lintas adalah kondisi ketika arus kendaraan melambat atau berhenti karena kapasitas jalan tidak mampu menampung volume kendaraan. Fenomena ini sering terjadi di kawasan perkotaan, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.

Kemacetan terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Pertama, jumlah kendaraan bertambah lebih cepat daripada pertambahan kapasitas jalan, sehingga kepadatan meningkat. Kedua, titik-titik hambatan seperti persimpangan, lampu lalu lintas, dan kendaraan berhenti sembarangan membuat aliran kendaraan terputus. Ketiga, penggunaan kendaraan pribadi yang tinggi menyebabkan ruang jalan cepat penuh, apalagi jika transportasi umum kurang nyaman dan tidak terintegrasi. Akibatnya, waktu tempuh bertambah dan konsumsi bahan bakar meningkat karena kendaraan sering berhenti dan berjalan kembali.

Oleh karena itu, kemacetan tidak bisa dipahami sebagai satu penyebab tunggal, melainkan hasil dari ketidakseimbangan antara kebutuhan mobilitas dan pengelolaan transportasi. Jika faktor-faktor pemicu dapat ditekan, risiko kemacetan berulang juga dapat berkurang.

Pembahasan struktur: Paragraf pertama adalah pernyataan umum karena mendefinisikan kemacetan dan situasi terjadinya. Paragraf kedua adalah deretan penjelas karena mengurai faktor penyebab dan dampak secara sebab-akibat (kepadatan → hambatan → aliran terputus → waktu tempuh naik). Paragraf ketiga adalah interpretasi karena menyimpulkan bahwa kemacetan multifaktor dan menutup dengan konsekuensi logis.

Untuk fenomena sosial, tantangan besarnya adalah bias: teks berubah jadi “menghakimi” pihak tertentu. Dari pengalaman editorial, cara paling aman adalah menulis dalam bahasa proses: “terjadi karena… dipicu oleh… berdampak pada…”. Kalau mau menyebut perilaku manusia, sebut sebagai faktor sistemik (“parkir sembarangan meningkatkan hambatan”) tanpa menyerang individu.

FAQ (Pertanyaan yang sering ditanya)

  • Kenapa teks eksplanasi harus pakai sebab-akibat?
    Karena inti eksplanasi adalah menjelaskan mekanisme terjadinya fenomena; tanpa sebab-akibat, teks biasanya jatuh jadi deskripsi atau opini.
  • Boleh nggak teks eksplanasi pakai data angka?
    Boleh, bahkan bisa memperkuat kejelasan. Tapi data harus relevan dan tidak mengganggu alur penjelasan proses.
  • Kalau topiknya fenomena sosial, apakah harus ada solusi?
    Tidak wajib. Kalau ada, letakkan di interpretasi sebagai simpulan logis, bukan sebagai ajakan panjang seperti teks persuasif.
  • Gimana cara cepat membedakan eksplanasi dan eksposisi saat ujian?
    Cari tesis/argumen (eksposisi) versus urutan proses terjadinya fenomena (eksplanasi). Kalau dominan “membuktikan pendapat”, itu eksposisi.
  • Apa yang paling sering bikin nilai teks eksplanasi turun?
    Struktur tidak jelas (tidak ada deretan penjelas yang runtut) dan kaidah kebahasaan lemah (minim konjungsi kausal/kronologis, banyak opini).

Catatan internal link: Di template SEO biasanya ada 3 internal link wajib. Karena URL internal belum disertakan, bagian ini sengaja tidak ditanamkan agar tidak mengarang tautan. Saat dipublikasikan, sisipkan 1 tautan per 300–400 kata pada bagian yang paling relevan (misalnya pada pembahasan struktur, kaidah kebahasaan, dan contoh).

Kesimpulan

Pengertian teks eksplanasi pada intinya adalah teks yang menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu fenomena terjadi, dengan penekanan pada proses dan hubungan sebab-akibat. Dari pengalaman mendampingi pelajar, memahami definisi saja belum cukup yang paling menentukan adalah kemampuan menjaga tulisan tetap “di jalur” eksplanasi, bukan berubah jadi opini atau argumen.

Kunci praktiknya ada pada tiga hal: kenali ciri-ciri teks eksplanasi (faktual, fokus proses, runtut), kuasai struktur teks eksplanasi (pernyataan umum–deretan penjelas–interpretasi), dan rapikan kaidah kebahasaan teks eksplanasi (konjungsi kausal/kronologis, istilah teknis seperlunya, kata kerja proses, EYD konsisten). Kombinasi ini biasanya cukup untuk membuat tulisanmu langsung “terbaca” sebagai eksplanasi oleh guru penilai.

Kalau sedang menyiapkan tugas atau ujian, gunakan langkah sederhana: tentukan fenomena → buat kerangka 3 bagian → isi deretan penjelas dengan urutan proses minimal 3 tahap → tutup dengan interpretasi singkat yang logis. Dengan cara itu, pengertian teks eksplanasi tidak berhenti sebagai teori, tapi berubah jadi keterampilan menulis yang bisa kamu pakai berulang kali untuk topik apa pun.