Hari Pendidikan Internasional sering lewat begitu saja karena kalender sekolah sudah padat, padahal momen ini bisa jadi “tombol reset” untuk ngobrol jujur soal kualitas belajar apa yang sudah jalan, apa yang masih bikin banyak siswa tertinggal, dan apa yang bisa diperbaiki bareng-bareng di sekolah/komunitas.
Di beberapa kegiatan literasi yang pernah saya bantu rancang, perayaan bertema pendidikan yang paling terasa dampaknya bukan yang paling meriah, tapi yang punya tujuan jelas: ada isu yang dipilih, ada aksi kecil yang realistis, dan ada cara mengecek hasilnya seminggu sampai sebulan setelah acara selesai.
Secara global, peringatan ini dibuat untuk menegaskan pendidikan sebagai hak asasi, barang publik, dan tanggung jawab bersama bukan sekadar urusan “nilai rapor”. Pandangan ini sejalan dengan pesan PBB/UNESCO bahwa pendidikan berperan penting untuk perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.
Artikel ini disusun sebagai panduan ringan tapi rapi: kamu bakal dapat info valid (tanggal, siapa yang menetapkan, sejarah singkat), tema Hari Pendidikan Internasional 2026 yang resmi, plus ide kegiatan yang bisa langsung dipakai dengan catatan risiko “seremonial doang” juga dibahas biar nggak buang energi.
Hari Pendidikan Internasional diperingati kapan dan oleh siapa
Kalau kamu mencari tanggal Hari Pendidikan Internasional 24 Januari, jawabannya tegas: diperingati setiap tahun pada 24 Januari. Untuk 2026, tanggalnya jatuh pada Sabtu, 24 Januari 2026 cukup “ramah” buat sekolah/komunitas yang mau bikin agenda setengah hari tanpa mengganggu jadwal pelajaran inti.
Yang menetapkan secara resmi adalah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN General Assembly). Ini penting disebut karena statusnya bukan sekadar kampanye sosial musiman: ia lahir dari keputusan formal PBB yang mengundang negara anggota dan berbagai pihak untuk ikut merayakan dan mempromosikan peran pendidikan.
Dalam praktiknya, UNESCO (badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan) banyak memimpin komunikasi tema tahunan, materi ajakan berpartisipasi, dan penyelenggaraan acara global. Jadi, PBB menetapkan harinya; UNESCO biasanya menggerakkan narasi, tema, dan contoh aksi yang bisa diadopsi.
Kenapa relevan untuk Indonesia? Karena momen ini bisa jadi “jangkar” kampanye internal sekolah/kampus: dari penguatan literasi dasar, pencegahan putus sekolah, sampai cara aman memanfaatkan teknologi belajar. Bahkan kalau kegiatannya kecil, selama ada fokus dan tindak lanjut, dampaknya tetap bisa terasa.
Sejarah singkat penetapan 24 Januari sebagai Hari Pendidikan Internasional
Inti sejarah Hari Pendidikan Internasional berawal dari keputusan PBB yang memproklamasikan 24 Januari sebagai International Day of Education. Dokumen resminya menyebut keputusan itu diambil lewat resolusi Majelis Umum PBB, yang menegaskan peringatan tahunan ini untuk merayakan peran pendidikan bagi perdamaian dan pembangunan.
Resolusi yang sering dirujuk adalah A/RES/73/25. Di dalamnya, PBB “memutuskan” (decides) untuk memproklamasikan 24 Januari sebagai Hari Pendidikan Internasional dan “mengundang” negara anggota serta organisasi PBB untuk memperingatinya. Ini memberi landasan otoritatif: sekolah/komunitas yang mengangkat momen ini punya pijakan global yang jelas.
UNESCO juga merangkum momen penetapan ini dalam artikel mereka: Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi tersebut dengan konsensus dan menetapkan 24 Januari sebagai hari peringatan internasional. Kalau kamu butuh narasi yang lebih “mudah dicerna” untuk materi OSIS/BEM atau humas sekolah, sumber UNESCO biasanya lebih komunikatif dibanding dokumen resolusi.
Biar makin rapi untuk kebutuhan internal konten, kamu bisa baca versi khusus yang membahas sejarah penetapan ini secara lengkap di sejarah penetapan 24 Januari oleh PBB berguna kalau kamu perlu kutipan tanggal/landasan dan konteks singkat untuk proposal kegiatan.
Tema Hari Pendidikan Internasional 2026 dan pesan kuncinya
Untuk tema Hari Pendidikan Internasional 2026, UNESCO menetapkan tema resmi: “The power of youth in co-creating education” (kekuatan anak muda dalam ikut mencipta/merancang pendidikan). Tema ini menyorot peran pemuda dan pelajar sebagai agen perubahan untuk mendorong pendidikan yang inklusif, setara, dan berkualitas.
Kalau diterjemahkan ke konteks kegiatan, “co-creating” bukan sekadar “anak muda diajak hadir”, tapi anak muda ikut mendesain: ikut menentukan isu, format acara, indikator sukses, sampai tindak lanjutnya. Dari pengalaman mengawal lokakarya siswa, perubahan kecil seperti memberi ruang kurasi topik oleh siswa bisa membuat diskusi jauh lebih jujur misalnya soal beban tugas, rasa aman di sekolah, atau akses perangkat belajar.
Pesan kunci yang bisa kamu tarik untuk kampanye: pendidikan akan lebih relevan kalau suara siswa/mahasiswa didengar secara bermakna. UNESCO bahkan menyiapkan ajakan partisipasi global (ide engagement) agar peringatan ini tidak berhenti di simbol, tapi menonjolkan kepemimpinan anak muda dan cara komunitas mendukungnya.
Kalau kamu butuh pendalaman makna tema + contoh penerapannya (misalnya untuk poster sekolah, skrip MC, atau brief media sosial), kamu bisa lanjut ke artikel internal ini: tema Hari Pendidikan Internasional 2026 dan maknanya. Ini biasanya membantu menjaga pesan tetap konsisten dan tidak “melebar” ke mana-mana.
Ide kegiatan memperingati Hari Pendidikan Internasional di sekolah, kampus, dan komunitas
Kunci menyusun kegiatan yang enak dijalankan adalah memilih satu masalah nyata dan satu aksi yang bisa diukur. Misalnya, kalau isu yang dipilih “literasi”, aksinya bisa sederhana: 20 menit membaca bareng + swap buku + survei minat baca sebelum/sesudah. Di beberapa sekolah yang pernah saya dampingi, format kecil seperti ini justru lebih bertahan karena tidak butuh biaya besar.
Berikut ide yang bisa kamu pilih boleh mix & match sesuai kapasitas. Prinsipnya: sisipkan peran siswa sebagai perancang (sesuai tema 2026), bukan hanya panitia “pelaksana”:
- Untuk sekolah: pojok curhat belajar (anonim) + tindak lanjut wali kelas; klinik matematika/literasi oleh kakak kelas; “kelas tanpa gawai” 1 jam lalu refleksi; debat ringan “PR perlu nggak?” berbasis data kelas; pameran proyek sains mini dari barang bekas.
- Untuk kampus: diskusi publik akses pendidikan; mentoring skripsi/karier oleh alumni; audit aksesibilitas kampus (ramah difabel) + rekomendasi; workshop AI untuk belajar yang etis; kelas berbagi “cara baca jurnal” untuk mahasiswa baru.
- Untuk komunitas: kelas orang tua (pendampingan belajar di rumah); perpustakaan jalanan; donasi kuota/perangkat berbasis verifikasi kebutuhan; program “1 RT 1 tutor”; pendampingan belajar untuk anak pekerja informal.
Kalau butuh daftar yang lebih “granular” sampai 30+ ide plus kategori, kamu bisa pakai rujukan internal: ide kegiatan Hari Pendidikan Internasional di sekolah. Biasanya ini memudahkan panitia memilih ide sesuai anggaran, durasi, dan jumlah relawan.
Supaya nyambung dengan tujuan global, kamu bisa kaitkan kegiatan ke SDG 4 (Quality Education) misalnya dengan menambahkan target kecil: “mengurangi ketertinggalan membaca” atau “meningkatkan rasa aman belajar”. Untuk kerangka praktis mengaitkan program ke SDG 4, kamu bisa baca: kaitannya dengan SDG 4 pendidikan berkualitas.
Risiko kegiatan yang hanya seremonial dan cara membuatnya berdampak
Risiko paling umum dari peringatan pendidikan adalah jadi seremonial: spanduk naik, foto rapi, lalu selesai. Dari sisi trust, ini rawan bikin siswa sinis karena mereka merasa suara mereka “dipakai” untuk citra, bukan perbaikan. Kalau kamu pernah melihat acara yang ramai tapi tak ada tindak lanjut, kamu sudah melihat risikonya secara langsung.
Supaya berdampak, pakai pendekatan sederhana: (1) pilih isu → (2) tetapkan indikator → (3) jalankan aksi → (4) evaluasi cepat. Indikator tidak harus rumit: jumlah buku terkumpul, persentase siswa yang ikut mentoring, skor survei rasa aman belajar, atau daftar masalah prioritas yang disepakati sekolah.
Kalau kamu mengusung tema 2026 soal “youth co-creating”, cara paling “kena” adalah memberi porsi keputusan ke siswa/mahasiswa: mereka menentukan 3 masalah teratas lewat polling, mereka mempresentasikan solusi, lalu pihak sekolah/kampus berkomitmen pada 1–2 tindakan nyata dengan tenggat. Di banyak forum siswa yang saya amati, momen “komitmen dengan tanggal” jauh lebih berharga daripada panggung hiburan.
Terakhir, jaga aspek keamanan dan inklusi: pastikan acara ramah untuk siswa pemalu, siswa difabel, atau yang tidak punya perangkat. Transparansi juga penting: kalau ada keterbatasan dana/SDM, bilang apa adanya dan pilih aksi yang realistis lebih baik kecil tapi jalan, daripada besar tapi berhenti di proposal.
Tabel ringkasan: dari konsep ke aksi
| Aspek | Ringkasan | Contoh cepat | Risiko | Solusi praktis |
|---|---|---|---|---|
| Konsep | Pendidikan sebagai hak & barang publik | Kampanye akses belajar yang adil | Jadi slogan kosong | Turunkan jadi target terukur |
| Manfaat | Refleksi kualitas belajar & kolaborasi | Forum siswa + komitmen sekolah | Suara siswa tidak ditindaklanjuti | Tetapkan PIC & tenggat |
| Tantangan | Waktu, dana, dan partisipasi | Kegiatan 90 menit di kelas | Peserta sedikit | Format mikro + kelas kecil |
| Risiko | Seremonial, eksklusif, tidak aman | Acara besar tanpa evaluasi | Sinisme & kelelahan panitia | Evaluasi 7 hari + tindak lanjut 30 hari |
| Solusi | Co-creating: siswa ikut merancang | Polling isu + proyek mini | Terjebak formalitas | Berikan ruang keputusan nyata |
FAQ
- Apakah peringatan 24 Januari wajib dirayakan sekolah?
Tidak ada kewajiban formal untuk tiap sekolah, tapi karena statusnya hari internasional yang diproklamasikan PBB, momen ini ideal dipakai sebagai program penguatan budaya belajar yang relevan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. - Bagaimana cara bikin kegiatan yang murah tapi tetap terasa?
Pilih satu isu kecil (misalnya literasi atau iklim kelas), pakai format 60–90 menit, dan ukur hasil sederhana (survei singkat, jumlah partisipan, atau daftar komitmen). - Gimana menerapkan tema 2026 tanpa acara besar?
Terapkan “co-creating” lewat polling siswa, forum solusi 3 kelompok, lalu satu rencana tindak lanjut yang disepakati bersama (dengan tanggal dan penanggung jawab). - Kalau kampus/sekolah takut jadi ajang kritik, apa alternatifnya?
Pakai kanal masukan anonim, kurasi isu jadi 3 prioritas, dan fokus pada solusi. Transparansi batasan (anggaran/kebijakan) membantu diskusi tetap sehat. - Apa indikator paling gampang untuk menilai dampak setelah acara?
Satu indikator perilaku (misalnya jumlah sesi mentoring berjalan), satu indikator persepsi (survei rasa aman/nyaman belajar), dan satu bukti tindak lanjut (notulen + daftar aksi 30 hari).
Kesimpulan
Hari Pendidikan Internasional diperingati setiap 24 Januari dan ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi resmi, sementara UNESCO aktif mengangkat tema tahunan dan mendorong partisipasi global. Landasan ini penting supaya perayaan yang kamu buat punya konteks dan tujuan yang jelas.
Tahun 2026, tema resminya adalah “The power of youth in co-creating education” pesannya sederhana tapi menantang: kasih ruang anak muda ikut merancang pendidikan, bukan cuma jadi peserta. Di lapangan, ini bisa diwujudkan lewat polling isu oleh siswa, forum solusi, dan komitmen tindak lanjut yang punya tenggat.
Kalau mau langkah paling praktis: tentukan 1 isu prioritas, pilih 1 aksi kecil yang terukur, jalankan pada 24 Januari, lalu lakukan evaluasi 7 hari dan 30 hari setelahnya. Dengan cara ini, peringatan bukan berhenti di seremoni tapi jadi pemicu perbaikan yang benar-benar terasa di kelas, kampus, atau komunitas.
